Laporan Praktikum Analisis Dissolved Oxygen (DO) di Perairan

Halo sahabat sekalian, pada kesempatan kali ini kami akan membagikan referensi untuk Laporan Praktikum Analisis Dissolved Oxygen (DO) di Perairan. Ingat ya ini sebagai referensi bukan sebagai bahan untuk di copy-paste sepenuhnya. Berusahalah membuat laporan sebaik mungkin dengan usaha dan pengetahuan kalian sendiri atau berimproviasasi dari laporan yang kami sediakan ini juga tidak masalah selama kalian tidak menelannya bulat-bulat ya hehehe... Baiklah langsung saja berikut ini isi dari Laporan Praktikum Analisis Dissolved Oxygen (DO) di Perairan Semoga membantu :)


BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Air merupakan suatu zat pelarut yang sangat berguna bagi semua mahluk hidup. Dan bahkan hampir 90% tanaman dan mikrobia terdiri dari air. Kandungan yang terlarut dalam suatu perairan tentunya mempengaruhi aktivitas hidup suatu organisme yang ada di dalamnya seperti kelimpahan kandungan oksigen (O2) dalam perairan yang memudahkan organisme di dalamnya dapat melakukan proses respirasi.
Kandungan oksigen (O2) dalam suatu perairan merupakan salah satu parameter kimia dalam menentukan kualitas air yang tingkat kebutuhannya dari tiap-tiap perairan, berbeda antara perairan satu dengan lainnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor suhu dan cuaca serta jenis organisme yang menempati perairan tersebut.
Oksigen (O2) merupakan salah satu faktor pembatas sehingga apabila ketersediaannya dalam perairan tidak mencukupi kebutuhan organisme yang ada, maka segala aktivitas organisme tersebut akan terhambat. Kadar oksigen yang terlarut dalam perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan semakin kecil atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin sedikit. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktur molekul sel darah ikan, yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam air dan derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kandungan oksigen terlarut pada suatu perairan.
1.3 Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah dapat mengetahui kandungan oksigen terlarut pada suatu perairan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping paramter lain yang sering digunakan seperti BOD dan COD dalam suatu perairan (Hutabarat dan Evans, 2006).
Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air yang paling kritis pada budidaya ikan. Konsentrasi oksigen terlarut dalam kolam selalu mengalami perubahan dalam sehari semalam oleh karena itu, pengelola kolam ikan harus selalu mengetahui atau memantau perubahan konsentrasi oksigen terlarut di dalam kolamnya. Sumber utama oksigen, terlarut dalam air adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis biota yang berklorofil yang hidup di dalam perairan, Kecepatan difusi oksigen ke dalam air sangat lambat Oleh karena itu, Fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan (Aria, 2009)
Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan lain-lain. Konsentrasi oksigen yang rendah dapat menimbulkan anorexia, stress, dan kematian pada ikan. Bila dalam suatu kolam kandungan oksigen terlarut sama dengan atau lebih besar dari 5 mg/l, maka proses reproduksi dan pertumbuhan ikan akan berjalan dengan baik. Pada perairan yang mengandung deterjen, suplai oksigen dari udara akan sangat lambat sehingga oksigen dalam air sangat sedikit. Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen dalam miligram yang terdapat dalam satu liter air (ppt). Oksigen terlarut umumnya berasal dari difusi udara melalui permukaan air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari proses fotosintesis plankton atau tumbuhan air (Ilahude dan A. Gani ,1999:47).
Oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup inilah beberapa manfaatnya, untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik, sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas, hasil fotosintesis organisme yang hidup (Mulyanto, 2009: 2).
Oksigen juga memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan khan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga (Nontji, 2002: 93).


BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu dilakukannya praktikum ini adalah pada hari Selasa tanggal 08 Maret 2016 yang bertempat di Laboratorium Terpadu Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
No. Nama alat Jumlah
1. Botol DO         1 Unit
2. Pipet tetes 3 Unit
3. Gelas beaker 1 Unit
4. Sarung tangan 1 Pasang
5. Masker         1 Unit

3.2.2 Bahan
Bahan- bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
No. Nama Bahan Jumlah
1 MnSo4         2 ml
2 NaOH         2 ml
3 KI                 2 ml
4 Na2SO2O3 12 ml
5 Indikator Basa 1 ml
6 H2SO4         2 ml

3.3 MSDS

Penanganan:

  • Jika tertelan

1. Memberi air minum (maksimal 2 gelas)
2. Segera mencari anjuran pengobatan
3. Hanya dalam kasus khusus, jika pertolongan tidak tersedia dalam satu jam, merangsang untuk muntah (jika korban tak sadarkan diri)
4. Menelan karbon aktif
5. Konsultasi dengan dokter

  • Perawatan (catatan untuk dokter)

Bersihkan luka dengan hati-hati dan tutup dengan bahan pembalut yang steril.

3.4 Cara Kerja
1. Diambil botol Do dan dimasukkan kedalam perairan.
2. Ditunggu hingga terdengar suara “Blub” yang menandakan botol Do penuh.
3. Segera ditutup botol Do agar tidak terkontaminasi oleh udara bebas, kemudian     diangkat dan dipastikan tidak ada gelembung udara.
4. Ditambahkan 2 mL larutan MnSO4 untuk mengikat O2 dan 2mL NaOH + KI untuk mengikat I2 dan membentuk endapan cokelat.
5. Ditutup botol DO dan dibolak balik hingga larutan homogen karna agar merata larutannya.
6. Dibiarkan beberapa menit hingga timbulnya endapan cokelat.
7. Kemudian ditambahkan 2mL H2SO4 untuk indikator asam secara perlahan dengan pipet tetes.
8. Ditambahkan 3 sampai 4 tetes Indikator Basa.
9. Dititrasi secra perlahan dengan larutan Na2S2O3 0,025 N dengan menggunakan biuret hingga berubah menjadi bening.
10. Dicatat volume titran yang digunakan saat larutan bening.
11. Kemudian dihitung kadar dengan menggunakan rumus.

3.5 Analisa Data


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan dari praktikum ini adalah :


4.2 Pembahasan
Praktikum ini membahas tentang analisis kandungan oksigen terlarut (DO) diperairan, yang bertujuan untuk mengetahui kadar DO pada suatu perairan dengan menganalisis sampelnya. Untuk sampelnya, di ambil di perairan pantai Alue Naga Aceh Besar.
Oksigen merupakan gas yang penting di dalam perairan, yang dihasilkan oleh organisme akuatik maupun difusi dari atmosfer. Oksigen terlarut kemudian digunakan oleh organisme akuatik lainnyauntuk respirasi, pertumbuhan dan reproduksi serta oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Oksigen terlarut (DO) sangat erat kaitannya dengan CO2, karena DO dihasilkan oleh proses fotosintesis yang melibatkan CO2.
Kecepatan difusi oksigen dipengaruhi oleh kekeruhan air, salitas, suhu, dan sirkulasi air yang terjadi, misalnya gelombang dan arus (Effendi, 2003). Praktikum ini menggunakan metode titrasi balik, menggunakan metode Iodimetri. Sebelum menentukan kadar DO, sampel ditambahkan MnSO4terlebih dahulu. MnSO4ditambahkan ke sampel air laut agar bisa mengikat O2. Setelah dimasukkan larutan MnSO4, kemudian dimasukkan larutan NaOH dan KI masing-masing sebanyak 2 ml. Penambahan NaOH dan KI dikarenakan kemampuan untuk mengikat I2. 
Sebelum dimasukkan larutan NaOH + KI, perubahan warna yang terjadi akibat penambahan MnSO4adalah gumpalan putih. Setelah penambahan dua larutan tersebut, menghasilkan larutan yang terpisah ( terbentuk endapan yang berwarna coklat susu). Setelah itu, botol erlemanyer ditutup agar dalam botol ini tidak terkontaminasi lagi dengan oksigen yang ada di udara.
Setelah di tunggu beberapa saat, barulah endapannya terlihat jelas, dimana susunannya adalah larutan tidak berwarna yang berada di atas dan endapan yang berwarna coklat berada di bawah. Larutan yang tidak berwarna kemudian dibuang dan hanya diambil endapannya saja untuk dititrasi. Endapan coklat tersebut kemudian ditetesi dengan larutan H2SO4, sehingga menghasilkan larutan berwarna merah bata, tetapi hanya sebentar saja.
Endapan ini kemudian ditetesi indicator PP dan dititrasi dengan Na2S2O3, seharusnya, hasil akhir yang di dapat dari penambahan larutan ini adalah warna bening, akan tetapi setelah ditambahkan 12 ml, larutan masih tidak berubah. Hal ini disebabkan oleh kecerobohan praktikan pada saat menghomogenkan larutan dan pada saat pemisahan larutan pada endapan. Sehingga, unsur lain selain O2 masih terdapat dalam larutan tersebut. 
Setelah melakukan analisis kandungan kadar DO, didapat lah hasilnya yaitu 4,57 ppm, hasil ini menunjukkan bahwa minimnya kandungan DO dikawasan perairan tersebut. Hal ini sesuai dengan teori dari Kordi, 2004 “ beberapa organisme air mampu bertahan hidup pada perairan dengan kondisi kadar minimal 5 ppm. Akan tetapi, pada perairan di bawah 4 ppm, organisme masih bisa hidup, tetapi nafsu makannya berkurang”. 
Minimnya kadar DO pada perairan ini disebabkan karena tingginya suhu. Selain itu, pada daerah ini juga tidak ada organisme laut seperti ikan yang hidup di wilayah ini karena minimmya DO. Kadar ini tergolong masih wajar mengingat sampel diambil di ambil di wilayah pantainya.


BAB V
PENUTUP
                                                         


5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum kami ini adalah:
1. Kandungan DO di wilayah pantai alue naga adalah sebesar 4,57 ppm
2. Metode titrasi yang digunakan dalam penghitungan kadar O2 adalah metode titrasi idodimetri
3. Kondisi perairan agar dapat ditinggali oleh ikan kadar DOnya harus diatas 4ppm dan untuk mikroorganisme dibawah 2ppm
4. Pembentukan endapan warna coklat menandakan telah terikatnya O2 dan I2 dalam bentuk garam endapan
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi DO adalah suhu, tekanan dan salinitas
6. Pengujian kadar dengan metode titrasi iodimetri membutuhkan titran seperti Na2S2O3 (Natrium Thiosulfat) sebagai tolak ukur kadarnya
7. Penambahan reaktan yang bersifat asam seperti H2SO4 saat titrasi pengukuran kadar bertujuan sebagai pemutus ikatan

5.2 Saran
Semoga dikemudian hari dapat digunakan metode titrasi lain dalam pengukuran kadar DO nya. Serta semoga kedepannya dapat digunakan perangkat titrasi yang lebih memadai agar ketika pengukuran kadar lebih akurat, meskipun praktikum percobaan dapat dilakukan dengan menggunakan pipet tetes tetapi dalam penghitungan kadar tetap dibutuhkan data yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Aria, Perwira. 2009. Oksigen Terlarut. Bina Aksara. Jakarta
Hutabarat, sahala dan Stewart M. Evans. 2006. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Illahude, A.Gani. 1999. Pengantar Oseanografi Fisika. Lembaga Ilmu Pengetahuan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Mulyanto. 2009. Oksigen Terlarut Dalam Air. Penerbit Erlangga. jakarta
Nontji, Anugerah. 2002. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.


LAMPIRAN
Perhitungan Kandungan DO

Post a Comment

2 Comments

  1. Permisi, izin salin sebagian tulisannya ya. Terimakasih banyak.

    ReplyDelete
  2. Oxygen is a basic need in our lives, however many people, for various reasons (COPD for example) need additional oxygen as their lungs are not extracting enough oxygen to feed their systems. This additional oxygen need is provided by machines. The choices are oxygen cylinders holding liquid oxygen, tanks with compressed oxygen, and finally oxygen concentrators, the main focus of this article. Pirani Gauges

    ReplyDelete