Laporan Praktikum Pengukuran Gelombang dan Pasang Surut Serta Parameter Kimia Dipantai Iboih, Gampong Gapang, Kota SabangPengukuran Gelombang dan Pasang Surut Serta Parameter Kimia Dipantai Iboih, Gampong Gapang, Kota Sabang

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur praktikan panjatkan kehadiran Allah SWT atas segala rahmatNya, sehingga laporan praktikum yang berjudul “ Pengukuran Gelombang Dan Pasang Surut Serta Parameter Kimia Dipantai Iboih, Gampong Gapang, Kota Sabang” dapat terselesaikan tepat pada waktunya, guna melengkapi rangkaian kegiatan praktikum pada mata kuliah Oseanografi Fisika

Laporan praktikum ini memuat latar belakang, tujuan praktikum, tinjauan pustaka, metode kerja serta hasil yang telah kami peroleh dari praktikum lapangan, dimana terdapat data-data yang telah diurutkan dan dihitung secara metodik pada laporan ini.

Dalam penulisan laporan ini, praktikan menyadari bahwa masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat perbaikan sangat diharapkan demi mendapatkan penyajian yang lebih komprehensif di laporan berikutnya.
Akhirnya, praktikan mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah turut serta memberikan bantuan, terutama kepada dosen pembimbing dan juga kepada semua asisten yang telah membantu dan membimbing kami.

Darussalam, 30 April 2017

Kelompok 2


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pulau Weh yang terletak di ujung barat Pulau Sumatera ini berhadapan langsung dengan Laut Andaman dan dikelilingi oleh 4 pulau kecil lainnya yaitu Rondo, Seulako, Rubiah dan Klah. Di pulau yang luasnya 154 km2 ini hanya sedikit dijumpai dataran; sebagian besar adalah lahan berbukit-bukit dengan puncak tertinggi 617 meter dari permukaan laut. Pulau Weh juga banyak terdapat pantai- pantai, adapun pantai - pantai yang dimaksud ialah Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pantai Kasih, Pantai Pasir Putih, Pantai Sumur Tiga, Pantai Anontam, Pantai Tapak Gajah atau Pantai Lhung Angen. Pada praktikum lapangan kali ini kami berfokus pada kawasan pantai Gapang.

Pantai merupakan bentang alam yang selalu mengalami perubahan, hal ini disebabkan oleh proses yang berlangsung didadalmnya yaitu arus dan gelombang yang merupakan proses yang berasal dari laut dan aliran sungai yang membawa sedimen yang merupakan proses dari daratan (Triadmodjo, 1999). Maksud dari gelombang ialah suatu fenomena alam berupa penaikan dan penurunan air secara perlahan dan dapat dijumpai diseluruh dunia, sdangkan maksud dari arus ialah gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current). Selain itu perubahan garis pantai juga bisa berubah – berubah akibat dari aktivitas manusia, yang mana diketahui bahwa pantai merupakan daerah yang akan terkena dampak langsung terhadap aktivitas manusia di daratan. Selain mempengaruhi garis pantai, arus dan gelobang laut juga yang menyebabkan terjadinya pencampuran (Mixed Layer) antara lapisan permukaan perairandan kolom perairan. 

Hal ini merupakan suatu proses fenomena alam yang biasanya terjadi pada suatu perairan. Proses alamiah yang terjadi pada perairan tersebut dapat dikaji lewat parameter oseanografi pantai yaitu gelombang, arus, angin, pasang surut dan transport sedimen. Selain pengukuran arus dan gelombang juga diukur parameter –parameter lainnya seperti kadar DO, Salinitas, pH perairan dan kecepatan arus untuk mengetahui kondisi oseanografis secara detil yang didasarkan pada parameter fisika dan kimia. Berdasarkan uraian diatas praktikum lapangan ini bertujuan untuk mengetahui pola arus pasang surut dan berkarakteristik gelombang diperairan Pantai Gapang, Pulau Weh.


1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum lapangan ini ialah untuk:
1. Untuk mengetahui pengertian dari arus dan gelombang.
2. Untuk mengetahui perbedaan parameter fisika serta kimianya.
3. Untuk mengetahui cara mengukur gelombang dan arus.

1.3 Manfaat Praktikum
Manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan praktikum lapangan ini ialah:
1. Dapat mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi gelobang dan arus.
2. Dapat mengetahui karakteristik dari pasang- surut dan gelombang laut di Pantai Gapang.
3. Bisa mengetahui cara mengukur parameter fisika dan kimia.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Pasang Surut 
Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727).  Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif.  Teori terjadi pada bumi ideal yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966). Untuk memahami gaya pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan pergerakan sistem bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan system bumi matahari.

Pada teori kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan densitas yang sama dan naik turun muka laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut atau GPP (Tide Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal, teori ini berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan matahari. Gaya pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi dan air rendah pada dua lokasi (Gross, 1987).


2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan  teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).

Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal.  Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang  surut gravitasional di laut. (Priyana,1994).

Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan terhadap bumi yang besarnya tergantung kepada besarnya masa benda yang saling tarik menarik tersebut. Bulan memberikan gaya tarik (gravitasi) yang lebih besar dibanding matahari.  Hal ini disebabkan karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih dekat ke bumi. Gaya-gaya ini mengakibatkan air laut, yang menyusun 71% permukaan bumi, menggelembung pada sumbu yang menghadap ke bulan.  Pasang surut terbentuk karena rotasi bumi yang berada di bawah muka air yang menggelembung ini, yang mengakibatkan kenaikan dan penurunan permukaan laut di wilayah pesisir secara periodik.  Gaya tarik gravitasi matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil. Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut selama periode sedikit di atas 24 jam (Priyana,1994).

Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata Yunani : oceanus  (samudera) dan graphos (urairan/deskripsi) sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetap lingkup oseanografi pada kenyatannya lebih dari sekedar deskripsi tentang samudera, karena samudera sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin digunakan (Supangat dan Susanna, 2008).

Keberadaan ekosistem yang kompleks dalam suatu perairan laut, pola aliran arus antar pulau yang dinamis dan aktifitas di kawasan laut mempunyai pengaruh terhadap kandungan zat hara serta pola sebarannya. Kandungan zat hara di suatu daerah perairan selain berasal dari perairan itu sendiri juga tergantung pada keadaan sekelilingnya, seperti sumbangan dari daratan melalui sungai serta serasah mangrove dan lamun. Zat hara merupakan zat-zat yang diperlukan dan mempunyai pengaruh terhadap proses dan perkembangan hidup organisme seperti fitoplankton, terutama zat hara nitrat dan fosfat. Kedua zat hara ini berperan penting terhadap sel jaringan jasad hidup organisme serta dalam proses fotosintesis. Tinggi rendahnya kelimpahan fitoplankton di suatu perairan tergantung pada kandungan zat hara di perairan antara lain nitrat dan fosfat. Senyawa nitrat dan fosfat secara alamiah berasal dari perairan itu sendiri melalui proses-proses penguraian pelapukan ataupun dekomposisi tumbuhtumbuhan, sisa-sisa organism mati dan buangan limbah baik limbah daratan seperti domestik, industri, pertanian, dan limbah peternakan ataupun sisa pakan yang dengan adanya bakteri terurai menjadi zat hara  (Ulqodry,2011).


2.3 Parameter Fisika
Suhu merupakan parameter yang sangat penting dalam lingkungan laut dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan laut. Menurut (Pujiastuti,2008) mengatakan bahwa suhu adalah salah satu sifat fisika air laut yang dapat mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan organisme perairan, disamping itu suhu sangat berpengaruh terhadap jumlah oksigen terlarut dalam air. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama pemin. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah faktor - faktor yang paling penting yang menentukan “kekuatan keturunan” dan daya tahan larva pada spesies - spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground) selama monsun pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut. Perubahan suhu jangka panjang dapat mempengaruhi perpindahan tempat pemijahan dan fishing ground secara periodik (Reddy, 1993).

Suhu permukaan di perairan Indonesia berkisar antara 26°C – 30°C. Di perairan Indonesia, suhu maksimum terjadi pada musim pancaroba I (sekitar April – Mei) dan musim pancaroba II (sekitar November). Pada saat tersebut angin relatif lemah sehingga proses pemanasan di permukaan terjadi lebih kuat. Tingginya intensitas penyinaran dan dengan kondisi permukaan laut lebih tenang menyebabkan penyerapan panas ke dalam air laut lebih tinggi sehinga suhu air menjadi maksimum. Sebaliknya pada musim barat (Desember – Pebruari) suhu mencapai minimum. Hal ini disebabkan karena pada musim tersebut kecepatan angin sangat kuat dan curah hujan yang tinggi. Tingginya curah hujan yang berarti intensitas penyinaran relatif rendah dan permukaan laut yang lebih bergelombang mengurangi penetrasi panas ke dalam air laut, hal inilah yang mengakibatkan suhu permukaan mencapai minimum. (Brotowidjoyo, dkk, 1995)     

Arus merupakan gerakan air yang sangat luas yang terjadi pada seluruh lautan di dunia. Arus-arus ini mempunyai arti yang sangat penting dalam menentukan arah pelayaran bagi kapal-kapal. Gerakan air dipermukaan laut terutama disebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya (Hutabarat,1985).

Arus permukaan laut umumnya digerakkan oleh stress angin yang bekerja pada permukaan laut. Angin cenderung mendorong lapisan air dipermukaan laut dalam gerakan angin. Arus laut juga dapat terjadi akibat adanya perbedaan tekanan antara tempat yang satu dengan yang lain. Perbedaan tekanan ini terjadi sebagai hasil adanya variasi densitas air laut dan slope permukaan laut. Gaya akibat perbedaan tekanan di sebut gaya gradient tekanan (Azis, 2006).

Menurut Hutabarat (1985), gerakan air di permukaan laut di sebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lain, yaitu:
a. Bentuk topografi dasar
b. Gaya coriolis dan Arus ekman: gaya coriolis membelokkan arah pergerakan massa air sebagai akibat dari rotasi bimi. Penyebab ini membentuk sebuah spiral yg disebut spiral Ekman
c. Perbedaan-perbedaan tekanan air: air mengalir dari tempat bertekanan tinggi ke tekanan rendah.
Faktor lain yang mempengaruhi proses penyerapan dalam air laut antara lain lumpur dan mikroorganisme (fitoplankton), sehingga tingkat kecerahan suatu perairan sangat mempengaruhi intensitas cahaya yang terserap dalam kolom air di perairan tersebut (Sediandi, 2003).

Penyinaran cahaya matahari akan berkurang secara cepat sesuai dengan makin tingginya kedalaman lautan. Pada perairan yang dalam dan jernih proses fotosintesa hanya terdapat sampai kedalaman sekitar 200 meter saja. Adanya bahan – bahan yang melayang – layang dan tingginya nilai kekeruhan di perairan dekat pantai penetrasi cahaya akan berkurang di tempat ini. Akibatnya penyebaran tanaman hijau di sini hanya dibatasi sampai pada kedalaman antara 15 dan 40 meter (Hutabarat, 1985).

Kecerahan perairan merupakan kebalikan dari kekeruhan, Kecerahan air memberikan petunjuk tentang daya tembus atau penetrasi cahaya ke dalam air laut. Kecerahan untuk budidaya algae Kappaphycus alvarezii lebih besar dari 5 meter. Perairan yang keruh mempunyai banyak partikel-partikel halus yang melayang didalam air dan banyak partikelpartikel tersebut menempel pada thallus, sehingga dapat menghambat penyerapan makanan dan proses fotosintesis (Bird dan Benson ,1987).

Hampir di setiap perairan pantai terjadi kenaikan maupun penurunan permukanair laut dalam hitangan jam maupun hari. Dimana air pantai yang turun disebut dengan surut, dan air pantai yang naik dikenal dengan nama pasang. Fenomena ini disebut dengan pasang surut air laut. Peristiwa ini di sebabkan oleh gayatarik benda-benda angkasa yang menyebabkan terjadinya kenaikan atau penurunan permukaaan air laut. Dimana dalam satu hari bumi berputar satu kali penuh dan bulan menarik massa air laut hal ini mengakibatkan gaya sentrifugal yang menyebabkan hal ini terjadi (Hoffman,2010).

Pasut merupakan fenomena pergerakan air laut yang di akibatkan oleh beberapa factor antara lain di akibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda langit. Selain itu pasang surut juag di sebabkan oleh pengaruh gaya tarik menarik anatar massa  umi dan massa benda-banda langit terutam matahari dan  baulan. Gaya tarik ini berbanding lurus dengan massanya dan berbanding tebalik denga kuadrat jaraknya (Lubis,2011)

Menurut Weyl (1970), Pasang surut timbul dari gaya tarik gravitasi bulan dan matahari di bumi . Selain itu efek bulan lebih kuat , jarak rata-rata antara pusat bumi dan bulan tidak berubah dengan waktu , daya tarik gravitasi bulan di bumi yang tepat dan seimbang yang menyebabkan gaya sentrifugal akibat rotasi bumi di sekitar pusat massa dari sistem bumi yaitu bulan.

Gelombang adalah peristiwa naik turunnya permukaan air laut dari ukuran kecil atau tidak sampai yang paling panjang (pasang surut) melalui suatu media yaitu air, sedangkan arus laut adalah pergerakan massa air secara vertical dan horizontal sehingga menuju keseimbangannya yang dikarenakan oleh tiupan angin, perbedaan densitas dan gelombang laut. (Baharudin, et al, 2009)

Menurut Hutabarat dan Evans (1985), gelombang laut dipengaruhi oleh:
a. Kecepatan angin. Jika kecepatan angin makin besar, gelombang yang terbentuk juga akan semakin besar dan memiliki kecepatan yang tinggi.
b. Waktu dimana angin sedang bertiup. Kecepatan dan panjang gelombang cenderung untuk meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu pada saat angin mulai bertiup
c. Jarak tanpa rintangan tanpa angin sedang bertiup. Gelombang yang terbentuk didanau dimana fetchnya kemungkinan lebih besar, seiring mempunyai panjang gelombang sampai beberapa ratus kedepan.

Menurut Irfani (2008), gelombang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gelombang laut dalam da gelombang laut dangkal. Gelombang di laut dalam dapat dibedakan menjadi beberapa macam tergantung pada gaya pembangkitnya. Jenis-jenis gelombang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Gelombang angin yaitu gelombang yang dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut. 
2. Gelombang pasang surut yaitu gelombang yang dibangkitkan oleh gaya tarik benda-benda langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi.
3. Gelombang tsunami yaitu gelombang yang terjadi karena letusan gunung berapi atau gempa di laut. Sedangkan gelombang laut dangkal adalah gelombang yang apabila suatu deretan gelombang bergerak menuju pantai (laut dangkal), maka gelombang tersebut akan mengalami deformasi atau perubahan bentuk gelombang yang disebabkan oleh prosesrefraksi, difraksi, refleksi, dan gelombang pecah.


2.4 Parameter Kimia
Derajat keasaman atau pH digambarkan sebagai keberadaan ion hidrogen. Derajat keasaman (pH) berpengaruh terhadap kelarutan dan ketersediaan ion mineral sehingga mempengaruhi penyerapannutrien oleh sel. Perubahan nilai pH yang signifikan dapat mempengaruhi kerja enzim dan menghambat proses fotosintesis dan pertumbuhan mikroalga (Gunawan,2012).

Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu yang disukai bagi pertumbuhannya. Makin tinggi kenaikan suhu air, maka makin sedikit oksigen yang terkandung di dalamnya. Suhu yang berbahaya bagi makrozoobenthos adalah yang lebih kurang dari 350 C. Organisme perairan mempunyai kemampuan berbeda dalam menolerir pH perairan. Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut, alkalinitas, adanya berbagai anion dan kation serta jenis dan stadia organisme (Marpaung,2013).

Air laut umumnya memiliki nilai pH di atas 7 yang berarti bersifat basis, namun dalam kondisi tertentu nilainya dapat menjadi lebih rendah dari 7 sehingga menjadi bersifat asam. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan nilai pH, nilai yang ideal untuk kehidupan antara 7 – 8,5. Pada nilai pH yang lebih rendah (< 4), sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH rendah (Susana, 2009).

Salah satu besaran dasar dalam bidang ilmu kelautan adalah salinitas air laut. Salinitas sering kali diartikan sebagai kadar garam dari air laut, walaupun hal tersebut tidak tepat karena sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Salinitas didefinisikan sebagai berat dalam gram dari semua zat padat yang terlarut dalam 1 kilo gram air laut jikalau semua brom dan yodium digantikan dengan khlor dalam jumlah yang setara, semua karbonat diubah menjadi oksidanya dan semua zat organik dioksidasikan. Nilai salinitas dinyatakan dalam g/kg yang umumnya dituliskan dalam ‰ atau ppt yaitu singkatan dari part-per-thousand (Arief, 1984).

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar.  Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payauatau menjadi salinebila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine. Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagaicontoh, Laut Matimemiliki kadar garam sekitar 30%  (Alfiah, 2013).

DO atau Dissolved Oxygen adalah jumlah oksigen dalam air yang berasal dari fotosintesa dan adsorbsi atmosfer udara. DO berperan dalam proses penyerapan makanan oleh mahlukhidup dalam  air. Semakin banyak DO maka kualitas air semakin baik. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernafasan, metabolisme, untuk tumbuh dan pembiakan. Sumber utama DO dalam perairan berasal dari proses difusi udara bebas dari fotosintesis tumbuhan perairan (Salmin, 2005).

Menurut Boyd (1990) dalam Puspitaningrum (2012) konsumsi oksigen dilakukan oleh semua organisme melalui proses respirasi dan perombakan bahan organik. Produksi oksigen berlangsung melalui proses fotosintesis oleh komunitas autotrof, sedangkan konsumsi oksigen dilakukan oleh semua organisme melalui proses respirasi dan perombakan bahan organik. Dinamika oksigen terlarut dalam ekosistem perairan ditentukan oleh keseimbangan antara produksi dan konsumsi oksigen.

Menurut Odum (1971) dalam Salmin (2005), menyatakan bahwa pada lapisan permukaan, kadar oksigen terlarut akan lebih tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh difusi antara air dengan udara bebas dan adanya proses fotosintesis. Kadar O2 semakin berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman karena proses fotosintesis berkurang. Jadi, dapat disimpulkan semakin banyak fitoplankton maka kadar oksigen akan meningkat.



BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tangal 25 maret 2017, yang meliputi pengukuran pasang surut dan pengukuran gelombang. Pengukuran pasang surut dimulai dari pukul 07:00 WIB sampai dengan pukul 19:00 WIB dan dilanjutkan pengukuran gelombang yang dimulai dari pukul 14:00 WIB sampai dengan pukul 15:00 WIB yang bertempat di Gampong Gapang, pantai Iboh dengan titik koordinat 95 13’02” - 95 22’36” BT dan 05o46’28” - 05 54’28”.

3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Tabel 3.2 1 Alat dan Bahan



3.3 Cara Kerja
3.3.1 Pengukuran Pasang Surut
Pengukuran pasang surut dilakukan setiap 30 menit sekali selama 24 jam. Alat yang digunakan adalah papan skala untuk mengukur tinggi air. Kemudian dicatat ketinggian air tertinggi dan terendah. Hasil pengukuran dan pengamatan dibuat dalam bentuk tabel dan dalam bentuk grafik. Dianalisis hasil yang diperoleh.

3.3.2 Pengukuran Gelombang
Pengukuran gelombang dilakukan setiap 8 detik sekali selama 1 jam, dengan menggunakan alat yang sama yaitu papan skala. Dilihat tinggi gelombang setiap 8 detik dan dicatat hasilnya. Hasil pengukuran dan pengamatan dibuat dalam bentuk tabel dan dalam bentuk grafik. Dianalisis hasil yang diperoleh.

3.3.3 pengukuran parameter fisika dan kimia
a. Pengukuran Salinitas dan Densitas
Diambil sampel air laut menggunakan timba secukupnya. Disiapkan alat DO meter yang telah terkalibrasi, kemudian diambil sampel air laut tersebut menggunakan pipet tetes dan diteteskan satu tetes kedalam alat refraktometer. Digunakan cahaya untuk melihat angka yang tertera di refraktometer. Dilakukan kegiatan tersebut per 3 jam sekali selama 12 jam. Dicatat hasil yang diperoleh.
b. Pengukuran DO (Oksigen Terlarut)
Disiapkan alat DO meter. Diambil sampel air laut menggunakan timba secukupnya. Kemudian dicelupkan sensor kedalam timba yang berisi air laut tersebut dan dilihat angka yang tertera di DO meter. Dilakukan kegiatan tersebut per 3 jam sekali selama 12 jam. Dicatat hasil yang diperoleh.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum lapangan ini terlampir di lampiran

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengamatan Parameter Fisika Dan Kimia
Pengamatan terhadap parameter fisika dan kimia juga dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa pengaruhnya terhadap kondisi perairan, gelombang serta arus pasang surut. Adapun parameter fisika dan kimia yang diukur ialah suhu, salinitas, DO, dan kecerahan. Suhu merupakan parameter yang sangat penting dalam lingkungan laut dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan laut. Salinitas sering kali diartikan sebagai kadar garam dari air laut, namun pengertian ini kurang tepat dimana lebih tepatnya Salinitas merupakan berat dalam gram dari semua zat padat yang terlarut dalam 1 kilo gram air laut. Dikarenakan ion mayor dilautan banyak terdapat ion-ion garam seperti Na dan Cl maka air laut menjadi asin.

DO atau Dissolved Oxygen adalah jumlah oksigen dalam air yang berasal dari fotosintesa dan adsorbsi atmosfer udara. DO berperan dalam proses penyerapan makanan oleh mahlukhidup dalam air. Semakin banyak DO maka kualitas air semakin baik. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernafasan, metabolisme, untuk tumbuh dan pembiakan. Sumber utama DO dalam perairan berasal dari proses difusi udara bebas dari fotosintesis tumbuhan perairan (Salmin, 2005). Sedangkan kecerahan ialah kebalikan dari kekeruhan, Kecerahan air memberikan petunjuk tentang daya tembus atau penetrasi cahaya ke dalam air laut. Kecerahan untuk budidaya algae Kappaphycus alvarezii lebih besar dari 5 meter. Perairan yang keruh mempunyai banyak partikel-partikel halus yang melayang didalam air dan banyak partikelpartikel tersebut menempel pada thallus, sehingga dapat menghambat penyerapan makanan dan proses fotosintesis (Bird dan Benson ,1987).

Setiap parameter yang diukur dilakukan tiga kali pengulangan untuk meminimalisir terjadinya galat yang besar. Dimana pengukuran dilakukan dari jam 07:00 hingga pukul 16:00, padapengukuran suhu yang diukur dengan alat thermometer yaitu paling tinggi pada jam 16:00 yaitu 32 oC; 31,1 oC; 31,1oC. untuk salinitas yang diukur dengan alat refraktometer ialah paling tinggi pada jam 07:00 yaitu 29 ppt, 28 ppt; 28 ppt. hal ini sesuai dengan teori bahwa semakin rebdah suhu maka salinitas semakin rendah, dimana pada jam 07:00 dimana keadaan suhu paling rendah.

Untuk kecerahan dilakukan juga pengukuran sebanyak tiga kali pengulangan yaitu paling cerah perairan berada pada jam 07:00 hal ini berbanding lurus dengan kadar DO diperairan ini, karena apabila kecerahan tinggi yang mana penetrasi matahari akan lebih banyak yang masuk sehingga hal ini menyebabkan banyak fitoplankton dan tumbuhan laut yang akan berfotosintesis sehingga meningkatkan kadar DO pada jam 07:00 yaitu dengan kisaran 4,1 ppm.

4.2.2 Pengamatan Pasang Surut 


Pengukuran pasang surut yang kami lakukan di pantai Gapang, dimana kita ketahui bahwa pasang surut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berskala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarikdari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu antra puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Penyebab utama arus laut yaitu faktor internal dimana faktor ini termasuk perbedaan densitas air laut, gradient tekanan mendatar dan gesekan lapisan air dan faktor eksternal yang termasuk gaya tarik bulan dan matahari yang dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya Coriolis, adanya perbedaan tekanan udara, gaya grafitasi, dan gaya tektonik. 

Berdasarkan pengukuran terhadap pasang – surut ini, dapat dikatakan bahwa pada perairan Gapang jenis pasang surut yang terjadi adalah Pasang – Surut harian ganda (Semi Diurnal Tide). Pasang – surut tentunya juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya seperti kecepatan pergerakan arus yang terjadi di perairan. Pada pengukuran arus (dapat dilihat pada tabel lampiran) diketahui bahwa kecepatan arus yang paling tinggi terjadi saat pengukuran pada menit ke 8 dengan kecepatan arus sebesar 0,062 m/s. Sementara itu, untuk kecepatan arus yang paling rendah adalah 0,008 m/s. Namun demikian, pengukuran arus yang dilakukan menggunakan floating grade ini masih kurang akurat karena adanya interupsi dari gerakan angin sehingga menyebabkan biasnya kecepatan pengukuran kecepatan arus yang sesungguhnya pada perairan tersebut.


Pengukuran terhadap ketinggian gelombang dilakukan menggunakan papan skalar. Perubahan pada ketinggian air dilakukan setiap 8 detik sekali untuk memaksimalkan hasil data yang diperoleh. Pengukuran tinggi gelombang ini dilakukan selama satu jam yaitu pada pagi hari pukul 07:00 – 08:00 WIB. Berdasarkan grafik yang disajikan diatas, dapat diketahui bahwa ketinggian gelombang rata-rata yang terjadi adalah 152 cm. 

Fluktuasi ketinggian serta periode gelombang yang terjadi selama pengukuran menunjukkan hasil yang bervariasi. Hal ini terjadi karena adanya faktor – faktor yang mempengaruhi gelombang tersebut. Pada pengukuran ini, angin diasumsikan sebagai faktor yang paling mempengaruhi variasi ketinggian gelombang yang terjadi, selain dari faktor pergerakan pasang-surut yang juga terjadi pada perairan tersebut. Kecepatan dan arah angin yang tidak menentu saat bersentuhan dengan muka air, menjadi kunci utama dalam proses – proses tersebut. Untuk nilai ketinggian gelombang terendah yang tercatat selama pegukuran adalah 130 cm. Sementara itu, untuk ketinggian maksimal gelombang yang tercatat adalah setinggi 180 cm. Fluktuasi yang beragam ini terjadi tentunya terjadi bukan hanya karena arah dan kecepatan angin yang terjadi pada lokasi saja namun juga dipengaruhi oleh variasi frekuensi, ukuran dan arah rambat yang beragam. Arah angin yang tidak stabil juga dapat menimbulkan tabarakan antar beberapa gelombang (interferensi gelombang) yang juga merupakan faktor penting dalam terjadinya fluktuasi ketinggian gelombang yang ada.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Pasang surut tertingi mencapai 530 meter pada jam 08:00 sampai 09:00 WIB
2. Gelombang laut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: kecepatan angin, waktu dimana angin sedang bertiup, dan jarak tanpa rintangan tanpa angin sedang bertiup.
3. Gelombang laut dibagi menjadi dua yaitu: gelombang laut dalam dan gelombang laut dangkal
4. Salinitas tertinggi di perairan Gapang yaitu mencapai 29 pada jam 07:00, sedangkan salinitas terendah yaitu 20 pada jam 10:00 WIB
5. suhu tertingi diperairan Gapang mencapai 32,1 C pada jam 10:00.
6. fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berskala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarikdari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan

5.2 Saran
Saran dari hasil fild trip yang telah kami lakukan diharapkan untuk kegiatan fild trip kedepannya lebih baik lagi seperti penyediaan sarana dan prasarana lebih memadai lagi agar terlaksanya fild trip yang aman dan nyaman.


DAFTAR PUSTAKA
Triatmodjo, B. 1996. Pelabuhan. Betta Offset. Yogyakarta

Alfiah. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas Dan Oksigen Terlarut di Perairan Kema, Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. Vol. 1, no 3 : hlm 148-157.

Andi, Kurniawan. 2006. Diktat kuliah pengantar oseanografi Penerbit Brawijaya Fakultas Perikanan. Malang. http://ikbrawijaya.blogspot.com/ . diakses pada tanggal 22 mei 2014 pukul 14.00 WIB.

Arif, Dharma.1984. Pengukuran Salinitas Air Laut dan Peranannya dalam Ilmu Kelautan. Jurnal oceanografi. Vol IX no 1 : hlm 3-10.

Barus, T.A. 2002. Pengantar Limnologi. Medan : Jurusan Biologi FMIPA USU.

Bird dan Benson.1987. Biological Oceanographic Processes.New York:State University.

Brotowidjoyo, dkk. 1995. Suhu Perairan Tropis. Jakarta: Gramedia.

Hoffman, Briggite. 2011. Laut. Bandung: PT Media Pustaka.

Hutabarat, Suhala dan Stewart M. Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press)

Irawan,Aditya dan Sari,L.I. 2013. Karakteristik Distribusi Horizontal Parameter Fisika-Kimia Perairan Permukaan di Pesisir Bagian Timur Balikpapan. Jurnal Ilmu Perikanan Tropis. Vol. 18. no. 2 : hlm 21-27.

Mahatma, Lanuru dan Suwarni. 2011. Pengantar Oseanografi. Program Studi Ilmu Kelautan Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas Hasanuddin.

Nontji, Anugerah.2007. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan; Jakarta.

Nybaken, James.W. 1985. Biologi Laut. Penerbit Erlangga; Jakarta.

Puspitaningrum, Mawar.,dkk.2012. Produksi Dan Konsumsi Oksigen Terlarut Oleh Beberapa Tumbuhan Air.  Laboratorium Biologi Struktur Fungsi Tumbuhan Jur Biologi FMIPA UNDIP. Hal. 44-55.

Reddy, James. 1993. Oceans and Coasts: An Introduction of Oceanography. New York: Suffolk Country Community College Selden Weyl,Peter.1970.An Introduction To The Marine Environment.New York:State University.

Romimohtarto, Kasijan. 2009. Biologi Laut. Penerbit Djambatan ; Jakarta.

Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai
Salah Satu Indikator untuk Menentukan Kualitas Perairan. Oseana, Volume XXX, Nomor 3, 2005 : 21 – 26.

Stiyono, Heryoso. 1996. Kamus Oseanografi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ulqodry, T. Zia dkk. 2010. Karakterisitik dan Sebaran Nitrat, Fosfat, dan Oksigen Terlarut di Perairan Karimunjawa Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Sains Volume 13 Nomer 1(D) 13109.

Widarno.2011. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia 







Post a Comment

0 Comments